Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Silsilah Satya Buddha > Xialu Rinpoche Guru Dari Panchen ke 10 Memberikan Pengakuan Kepada Buddha Hidup Lian-sheng


Xialu Rinpoche Guru Dari Panchen ke 10 Memberikan Pengakuan Kepada Buddha Hidup Lian-sheng

 

Pertemuan Dengan Xialu Rinpoche , Guru Dari Panchen Lama ke 10 
 
Sumber : Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng , Buku 116
 
 
Malam hari pertama di lantai 10 President Suite Apartement Beijing Diaoyutai State Guesthouse , Guru dari Panchen Lama ke 10 (Chokyi Gyaltsen) yang berusia 90 tahun datang menemui saya. 
 
Selain Dalai Lama, Mahaguru Panchen Lama 10 merupakan pimpinan spiritual Tibet, dari sini kita dapat mengetahui betapa agungnya Guru dari Panchen Lama 10. 
  
Seseorang diam-diam memberitahu saya mengenai Guru ini, bahwa bahkan Gungthang Rinpoche , apabila berjumpa dengannya harus menghaturkan namaskara.
   
Beliau mengunjungi saya dengan membawa serta lima orang Rinpoche, satu diantaranya adalah seorang Rinpoche titisan ke 7, namanya sangat panjang, yaitu : ‘Na-chang. Xiang-ba Ang-weng-dan-qu-cheng-lai’, Na-chang Rinpoche ke 7 ini mempunyai tiga kedudukan :
 
1. Wakil Sekretariat The Buddhist Association of China.
2. Wakil Presiden Chinese Senior Buddhist College, jurusan Bahasa Tibet.
3. Pimpinan Vihara Chang-long Pusat Pembabaran Dharma dan Bhavana Parisuddhi Na-cang di Garze Sichuan.
  
Saya mempersilahkan Kelima Rinpoche untuk duduk, saya duduk bersama Guru Sesepuh.
 
Guru dari Panchen Lama ke 10 mengamati saya dan mengatakan :
“Anda adalah seorang Rinpoche sejati.”
 
Juga mengatakan :
“Saya melihat tubuh Anda memancarkan cahaya prana.” ( Secara internal, merealisasi Samadhi Tantra )
  
Saya tetap diam, hanya tersenyum. Saya berpikir bahwa saat berjumpa dengannya Gungthang Rinpoche pun harus bernamaskara, kedudukan Guru Sesepuh ini tak terperikan, sebab Gungthang Rinpoche saat ini merupakan Rinpoche tertinggi di Tiongkok.
 
Kedudukan Gungthang Rinpoche bahkan lebih tinggi dari Pimpinan Tibet Buddhist Theological Institute : Bomi Qiangba Rinpoche dan Pimpinan Tibetan Traditional Medicine College : Cuoru Cilang Rinpoche.
   
Saya pernah memimpin upacara bersama Bomi Qiangba Rinpoche dan Cuoru Cilang Rinpoche.
 
Pernah surat menyurat dengan Gungthang Rinpoche.
  
Saat ini, Guru dari Panchen Lama 10 datang menjumpai saya, dahi beliau nampak penuh, perawakannya kurus tinggi, warna kulitnya merah tua, matanya cerah dan memancarkan hidup, tubuh bagian atas mengenakan paozi Tibet, kasaya muncul dari kerahnya, mengenakan celana panjang hitam dan sepatu kulit hitam, dia tidak banyak tersenyum dan bicara, pembawaannya tenang.
 
Saya memperkenalkan diri sebagai Pendiri Zhenfo Zong , Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu , mereka menganggukan kepala dan mengatakan :
 
“Kami tahu, kami tahu.”
 
Juga mengatakan : 
 
“Kami para Rinpoche mengetahuinya.”
 
Guru dari Panchen Lama ke 10 mengatakan :
“Apakah Guru Anda tidak iri kepada Anda ?”
 
“Ah !” Saya tidak dapat menjawabnya.
 
“Jika saya adalah Guru Anda, saya pasti iri pada Anda, Anda punya 4 juta siswa, Guru Anda tidak sebanding, mengherankan jika tidak mendengki pada Anda.”
 
Guru dari Panchen Lama 10 meringis dan tertawa, inilah pertama kalinya saya melihat dia tersenyum.
  
Guru dari Panchen Lama ke 10 sangat terus terang , ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Sejenak saya merenungkan ucapannya, merasa ucapannya mengandung filosofi dan sangat terbuka.
 
Saya mengatakan :
“Saya tidak pernah meributkan reputasi, terhadap Guru hanya menghormatinya.”
 
Dia mengatakan : “Bagus sekali, bagus sekali !”
  
Saya merenungkan dengan dalam, sesungguhnya ucapan singkat dari Guru Panchen Lama ke 10 sungguh membuat saya merasa salut. Sakyamuni Buddha pernah menekuni bhavana keras di Gunung Salju selama enam tahun, telah berguru pada beberapa orang, kemudian setelah Hyang Buddha mencapai keberhasilan agung, guru-gurunya yang terdahulu sempat menyerang Sakyamuni Buddha.
 
Guru Sutrayana saya ?
Guru Tantrayana saya ?
 
Saya tidak berani memikirkannya ?
 
Seorang yang menekuni Buddha Dharma tidak boleh berdusta, dalam berbagai petaka hidup saya ini, salah satunya adalah dicampakkan oleh guru sendiri, saya diserang mati-matian oleh salah satu guru , saya juga adalah orang yang ditempa keras oleh guru. Sekalipun saya ditindas, namun tetap berterima kasih , harus mengingat budi jasa, sebab tidak peduli didukung maupun ditentang, semua adalah adhistana. 
   
Saya meneladani Guru Leluhur kita, Milarepa. 
 
Hanya dengan demikian barulah mengikis karmavarana.
Hanya dengan demikian , barulah merealisasi keberhasilan seluas angkasa.
 
 
Judul Asli :
十世班禪教授師夏魯活佛認可蓮生活佛
 
Sumber :
 
Diterjemahkan Oleh Lianhua Shian
 
◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?