Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Silsilah Satya Buddha > Dharmaraja Lian-sheng Menajalani Upacara Pentakhtaan di Karma Lekshey Ling- Kagyudpa


Dharmaraja Lian-sheng Menajalani Upacara Pentakhtaan di Karma Lekshey Ling- Kagyudpa

 

Upacara Duduk di Dipan Pusaka Karma Lekshey Ling
 
Sumber : Kutipan karya tulis Dharmaraja Liansheng , Buku 121
 
Video :
 
 
 
Pada tanggal 26 November 1996, 
 
Kami tiba di Vihara Kagyudpa - Karma Lekshey Ling , Gyaltsen Lama , selaku pimpinan keluar untuk menyambut.
 
Gyaltsen Rinpoche memperkenalkan keseluruhan institut dan vihara, menyajikan biskuit dan teh, serta secara khusus diundang memasuki Ruang Dharmapala. 
 
  Gyaltsen Rinpoche juga menyelenggarakan upacara agung duduk di dipan bagi saya ( Dipan Pusaka dari Karmapa ) 
 
Gyaltsen Rinpoche mengatakan kepada saya : “Upacara duduk di Dipan Pusaka telah siap sepenuhnya.”
 
Saya menjawab : “Baiklah.”
 
Saya naik untuk duduk di atas Dipan Pusaka, di sebelah tangan kanan terdapat mandala Para Buddha Bodhisattva, mandala tersebut sangat besar.
 
1. Rupang Buddha – melambangkan tubuh.
2. Sutra dan teks – melambangkan ucapan.
3. Stupa Ratna – melambangkan pikiran.
 
Terdapat rupang Para Buddha, Bodhisattva dan Dharmapala. Selain itu terdapat sarana puja seperti astapujana, pelita, dupa, bunga, teh, buah dan lain sebagainya.
 
Saat saya naik ke atas Dipan Pusaka, tangan saya membentuk Mudra Padmakumara, tangan kanan Mudra Membabarkan Dharma, tangan kiri Mudra Memegang Padma, para Acarya dan bhiksu duduk mengitari di depan Dipan Pusaka.  
 
  Gyaltsen Rinpoche melantunkan Gatha Pengundangan.
Terlebih dahulu mengundang Amitabha Buddha, serta menyebut sebagai penjelmaan Amitabha Buddha.
 
Kemudian Gyaltsen Rinpoche melingkarkan hata putih pada sebuah rupang Buddha dan dipersembahkan kepada saya, saya menerimanya dengan kedua tangan, terlebih dahulu menyentuhkannya di dahi, kemudian saya pegang di depan dada. Ini melambangkan manunggalnya hati Buddha Hiudp Lian-sheng Sheng-yen Lu dengan Amitabha Buddha dan melambangkan pembabaran Kebenaran, saat itu, Buddha Hidup Lian-sheng tiada berebda dengan Amitabha Buddha. Buddha Hidup Lian-sheng adalah kedatangan kembali dari Amitabha Buddha.
 
Saat itu, saya memperoleh respon spiritual Para Dewata menghaturkan pujana,
Tanpa henti saya melafalkan Mantra Amitabha Buddha.
 
Para Dewata hadir mempersembahkan Mahkota Ratna, Dharmayudham, serta makanan dan minuman Surgawi, semua merupakan pujana berkualitas. Para Acarya dan bhiksu melantunkan Gatha Permohonan Adhistana.
 
 Gyaltsen Rinpoche membungkukkan badan di sudut kanan bagian bawah dari Dipan Pusaka.
 
Dengan demikian Upacara Agung kemanunggalan yang melampaui jiwa dan raga telah paripurna, saya, Amitabha Buddha dan para insan , ketiganya sepenuhnya telah manunggal. 
  
Upacara Agung Duduk di Dipan Pusaka berakhir dengan khidmat seusai sesi pelimpahan jasa.
 
Meskipun upacara ini sederhana, namun maknanya sangat mendalam.
 
Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu adalah orang Tionghoa yang berbicara dalam Bahasa Tionghoa, terlahir di Taiwan, belajar Buddhisme sejak usia 25 tahun.
 
Bhavana dijalani selangkah demi selangkah.
 
Tahun ini telah berusia 53 tahun, mulai dari sadhaka paling awal, kemudian menekuni bhavana, mepraktekkan, hingga mencapai Pencerahan , telah ditempuh dengan penuh kesukaran dan penderitaan, telah menempa diri menjadi Vajra tak terhancurkan, walaupun fitnahan menggunung, kritikan seluas samudra, namun dikarenakan demikianlah maka sejak awal telah melampaui ego, mampu menguasai kelahiran dan kematian sendiri, dan demi memberikan  manfaat bagi para insan di enam alam, membangkitkan ikrar untuk menuntun para insan dalam setiap kelahiran, meneruskan aktivitas agung dalam membabarkan Dharma demi para insan.
 
Dalam Tantrayana :
Acarya Sakya Zengkong telah menganugerahkan Abhiseka Vajra Acarya.
Kalu Rinpoche memberikan pengakuan kepada saya.
Sasanapati Gelugpa,  Dharmaraja Ganden Tripa menganugerahkan Rompi Dharmaraja.
Gyaltsen Rinpoche memimpin Upacara Duduk di Dipan Pusaka.
Vihara Drepung dari tiga vihara besar Tibet, memohon saya duduk di atas Dharmasana untuk membabarkan Dharma.
 
. . . . . .
 
Ini semua hanya merupakan lahiriah.
 
Sedangkan dari dalam, sesungguhnya saya mempunyai kemampuan Samadhi agung, selama bertahun-tahun saya telah menekuni bhavana dari empat aliran, yaitu : Dzogchen, Mahamudra, Mahaparipurnavijayaprajna dan Mahabhairava, sejak lama telah merealisasi keberhasilan tertinggi, saat mencapai realisasi, Maitreya Bodhisattva hadir mempersembahkan Mahkota Ratna Berwarna Merah kepada saya, memberikan selamat atas realisasi Sambodhi, Mahkota Ratna ini tidak berwujud, namun sekali memperolehnya maka selamanya akan memperolehnya.
 
Tidak hanya mencapai Pencerahan bagi diri sendiri, namun kelak saya akan mentransmisikan semua abhiseka dan kunci penting dalam bhavana, menuntun para insan untuk memahami Dharma lebih mendalam, menganugerahkan kekuatan adhistana  tertinggi, supaya para siswa juga dapat mencapai Pencerahan dan terbebaskan.
 
  Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu menerima pengakuan, juga duduk di atas Dipan Pusaka, memperoleh Rompi Dharmaraja, sekalipun semua hanya ritual yang sederhana, namun telah sepenuhnya menguasai bhavana semua tata ritual Rinpoche Tantra Tibet.
 
  Kelak salah satu tugas utama saya adalah mengkonfirmasi anak-anak titisan, sebagai kedatangan kembali dari Buddha Bodhisattva, menemukan Buddha Hidup Rinpoche Zhenfo Zong, mentransmisikan silsilah kepada mereka.
 
Saya akan menyerahkan silsilah pada orang yang :
1. Berparas agung
2. Menguasai ajaran dalam sutra dan teks
3. Memiliki kemurnian sila
4. Kemampuan Samadhi mendalam.
 
 
Judul Asli :
蓮生活佛於白教卡瑪列切寺坐床
 
Sumber :
 
◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
 
Diterjemahkan Oleh Lianhua Shian