Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Karya Tulis Mahaguru > 240_Gateway to Infinite Dharma Treasure > Buddhata itu Muncul Secara Alami


Buddhata itu Muncul Secara Alami

Seseorang bertanya pada saya, "Bagaimana Anda menyaksikan Buddhata?"

Saya menjawab, "Alami."

Orang bertanya, "Mengapa alami? Bukankah harus gigih mencerahinya?"

Saya menjawab, "Tidak! Asalkan khayalan disingkirkan, Buddhata pun ada di sana."

Saya menekankan:

Buddhata kekal.

Terang dan bebas dari kekotoran.

Bukan hasil penekunan.

(Buddhata bukan hasil penekunan, melainkan, gigih mencapai tiada pikiran, Buddhata pun muncul)

Diperjelas sedikit:

Awan berpencar dan air mengalir pergi, langit dan bumi kosong dalam keheningan.

Manusia dan sapi tidak terlihat, itulah saatnya rembulan bersinar.

Rumus yang terpenting adalah, "Tidak perlu berusaha menyaksikan Buddhata, asalkan memadamkan khayalan, maka itulah menyaksikan Buddhata."

Saya ceritakan dua buah lelucon:

Istri bertanya, "Bagaimana pendapatmu mengenai sistem monogami?"

Suami menjawab, "Setuju separuh."

Istri bertanya, "Maksudmu?"

Suami berkata, "Saya setuju satu suami, menolak satu istri."

(Hahaha! Saya juga setuju separuh, asalkan khayalan pergi, tidak perlu mengusahakan kebenaran. Karena khayalan pergi, kebenaran muncul dengan sendirinya)

Ada lagi:

Si A bertanya pada Si B, "Bukankah Anda punya satu unit mobil balap baru? Mengapa setiap kali bertamasya bersama istri, tetap mengendarai mobil tua?"

Si B menjawab, "Aduh! Hanya bunyi mobil tua itulah baru dapat menekan suara ocehan istri."

Hahaha!

Asalkan suara ocehan tidak ada lagi.

Buddhata yang bersih pun muncul dengan sendirinya!

Saya berkata:

Di dalam Sutra Hati ada sepatah kata:

"Meninggalkan impian yang terbalik, itulah parinirvana."

Kita harus meninggalkan impian yang terbalik, jangan pernah melekat:

1. Dunia manusia yang semu dan tidak nyata, mengira benar-benar ada, malah selamanya ada.

2. Menjadikan kesenangan duniawi sebagai target pengejaran, mencengkeram erat kekayaan, rupa, popularitas, makan, dan tidur. Bahkan mengira ini adalah asal mula kebahagiaan dalam hidup.

3. Seharian membandingkan dan membedakan, membedakan lurus dan sesat, baik dan buruk, benar dan salah, cantik dan jelek, positif dan negatif, berpisah dan bersatu.... Hidup di dalam dualisme, tingkatan, oposisi, khayalan tidak dapat berhenti dan padam.

4. Berpusat pada "ego", mengira benar-benar ada sebuah "aku", mengira aku fisik adalah diriku yang sebenarnya, segalanya hanya demi aku ini, menghasilkan bermacam-macam khayalan yang terbalik.

Rumus melatih diri adalah:

1. Dunia manusia adalah ilusi.

2. Tidak ada suka maupun duka.

3. Tathata adalah mutlak.

4. Aku adalah tiada aku.

Saya adalah seorang yang paham sejelas-jelasnya, para siswa mulia, camkan baik-baik rumus ini di dalam hati, praktekkan dengan tekun dan gigih, menyeberangkan diri sendiri juga menyeberangkan insan lain.

Pembebasan dan kebuddhaan, semua ada di dalamnya.