Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Karya Tulis Mahaguru > 240_Gateway to Infinite Dharma Treasure > Rumus Merasakan Sensasi Terang


Rumus Merasakan Sensasi Terang

Acarya pada umumnya mengajari bahwa “terang” yang muncul, ada semacam yang merupakan kilatan cahaya yang sangat sementara dalam kehidupan, “terang” semacam ini sangat sulit dibenarkan, juga sangat sulit dipastikan, namun bisa dirasakan.

Pikiran sebelumnya telah tenggelam, pikiran berikutnya belum timbul – pada saat ini, kadang-kadang menampakkan wujud transparan.
Saat bayi – karena belum diganggu oleh khayalan, sering melihat terang.
Saat mahasukha—terang tiba-tiba berkelebat.
Saat bersin – pikiran terhenti, cahaya berkelebat.
Saat menguap—pikiran terhenti, cahaya berkebelat.
Saat mengantuk—saat tidur lelap, cahaya berkelebat.
Saat jelang wafat—bardo muncul, cahaya berkelebat.
Saat pingsan dipukul—pikiran terhenti, cahaya berkelebat.
Tiba-tiba dikejutkan—kesadaran berhenti, cahaya berkelebat.

Terang yang muncul dari kejadian di atas, ada yang tidak berarti, ada yang tak dikenal, sulit sekali dipastikan.

Kita (yogi) berada pada:
Tidak melatih.
Tidak membenahi.
Tidak mengatasi.
Tidak galau.

Di dalam penekunan Dhyana, di dalam terang abadi yang muncul, baru benar-benar merasakan sensasi munculnya terang wujud transparan.

Di dalam pengalaman sensasi terang yang saya rasakan, rumus yang terpenting adalah:
Saat pikiran galau, biarkan ia tenang.
Saat pikiran tenang, biarkan ia stabil.
Saat pikiran stabil, biarkan ia meluas.
Di dalam kondisi meluas, muncullah terang.

(Di dalam rumus ini, agak mirip mengatasi, sebenarnya tidak perlu mengatasi, asalkan Anda sendiri mesti mengetahui bahwa galau juga hati, tenang juga hati, stabil juga hati, meluas juga hati, terang juga hati, karena terang adalah sunya juga.)

Ketahuilah, datang dan perginya semua pikiran, semua timbul dengan sendirinya, juga lenyap dengan sendirinya.

Saya mengilustrasikan:
Laut adalah Buddhata.
Ombak adalah khayalan.
Ombak naik dan turun.
Tetap kembali ke laut Buddhata.
Keduanya tiada beda.

Saya mengilustrasikan:
Air sungai senantiasa mengalir.
Ibarat khayalan senantiasa mengalir.
Lurus atau bengkok, biarkan saja.
Asal mengetahui bahwa itu adalah kondisi yang memang demikian adanya.
Bengkok atau lurus tidak ada bedanya.

Seorang yogi asalkan mampu menetap di dalam kondisi Dharmata yang memang demikian adanya, maka bisa mencapai pencerahan di dalam tingkat tertinggi, serta memperoleh terang.

Yang namanya awan, kabut, halimun, walaupun muncul di tengah angkasa, juga akan lenyap di tengah angkasa.

Asal camkan yang satu ini, Anda pun tidak melekat pada apapun.

Sehingga, segar, bebas dari ikatan, alami, terang pun muncul dengan sendirinya.

Tidak timbul dan tidak tenggelam.
Tidak kotor dan tidak bersih.
TIdak bertambah dan tidak berkurang.
Tidak melatih, tidak membenahi, tidak galau, semuanya menetap dalam kondisi yang memang demikian adanya.
Jelas dan terang.

Saat pikiran timbul, jangan hiraukan, jangan ikuti, timbul pikiran apapun, akan hilang dengan sendirinya.

Inilah dunia terang.

Tidak ada yang dilakukan, tidak menetap di mana pun.
Tidak ada yang dipikirkan, tidak ada yang dibuat-buat.
Tidak membedakan, tidak terfokus.
Terang muncul dengan sendirinya.

Camkan baik-baik!